Tutup Tahun 2021, TNI AL Gagalkan Penangkapan dan Penyelundupan Penyu Hijau

Digiqole ad

DENPASAR – baliprawara.com

Bertepatan dengan momentum HUT Ke-72 Lantamal V, sekaligus memasuki Penghujung Tahun 2021, Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) V jajaran Koarmada Il, dalam hal ini Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar, berhasil menggagalkan upaya penangkapan dan penyelundupan penyu hijau. Penggagalan sebanyak 32 penyu hijau ini berhasil dilakukan jajaran Lanal Denpasar, pada saat melaksanakan patroli di sekitar pantai dan perairan Selatan Bali, pada Kamis 30 Desember 2021. 

Menurut Komandan Lantamal V Laksamana Pertama TNI Yoos Suryono Hadi., M.Tr.(Han)., M.Tr.Opsla., CHRMP., Keberhasilan dalam menggagalkan upaya penangkapan dan penyelundupan sebanyak 32 ekor Penyu Hijau atau satwa langka yang dilindungi ini merupakan buah kerja keras tim patroli TNI AL Lanal Denpasar. Tentunya hal ini merupakan sebuah prestasi di penghujung tahun, sekaligus hadiah pada momentum Ulang Tahun Ke-72 Lantamal V tahun 2021, yang jatuh pada tanggal 28 Desember. 

 

Danlantamal saat memberi keterangan pers, Jumat 31 Desember 2021 di pantai Serangan mengatakan, kalau semua penyu laut di Indonesia telah dilindungi. Hal ini menururnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, termasuk Penyu Hijau atau Chelonia Mydas ini. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, dalam Pasal 21 ayat (2), menyebutkan bahwa “menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; atau menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). 

Lebih lanjut dikatakan, saat ini, barang bukti berupa 32 ekor penyu hijau berukuran besar dan sedang, 3 buah Kapal Jukung, beserta 21 orang ABK, telah diamankan di Lanal Denpasar. “Penangkapan dan penyelundupan penyu ini bukan kali pertama, sebelumnya Lanal Denpasar juga pernah menangkap pelaku yang melakukan penangkapan dan penyelundupan penyu pada tanggal 17 Maret 2019 di Dusun Banyuwedang, Desa Gerokgak, Kabupaten Buleleng Bali,” ucapnya didampingi Asops Danlantamal V Kolonel Laut (P) Hreesang Wisanggeni, Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (P) I Komang Teguh Ardana, S.T., M.A.P., Kepala BKSDA Prov Bali, Dr. R. Agus Budi Santosa, S.Hut.,MT., Ketua Yayasan TCEC (Turtle Conservation Education Centre) Made Sukata.

See also  Puluhan Tahun Terisolir, Desa Subaya Kini Punya Akses Memadai Bantuan TNI AL

Sementara itu, terkait dengan proses hukumnya, berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya dalam Pasal 39 ayat (2), tentang Penyidikan jelas bahwa dalam tindak pidana ini, TNI AL memiliki kewenangan dalam melakukan penyidikan. Untuk itu, proses hukumnya akan dilaksanakan oleh Lanal Bali dibantu dengan penyidik mobile dari Lantamal V Surabaya. 

Pada kesempatan sama, Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Denpasar Kolonel Laut (P) I Komang Teguh Ardana, S.T., M.A.P., menambahkan, pelaku sebelumnya berprofesi sebagai nelayan. Namun karena ada permintaan dari konsumen, akhirnya mereka memilih untuk beralih untuk menangkap penyu. penangkapan penyu ini dilakukan tersangka dalam waktu satu malam, di perairan Badung Selatan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali R. Agus Budi Santosa, mengatakan, penyu hijau yang diamankan ini, menunjukkan kalau di Bali mulai menjadi tujuan penyu hijau untuk bertelur. Pasalnya sejak 5 tahun terakhir di Bali tidak pernah disinggahi penyu hijau untuk bertelur.  Karena selama lima tahun terakhir, hanya penyu lekang saja yang menepi ke pesisir di Bali. Perkiraan umur 7-8 tahun dna yang paling besar 20-30 tahun. Saat ini, puluhan penyu ini masih dititipkan di TCEC Serangan sebelum dilepas liarkan kembali. (MBP1)

 


Berita Terkait